Pages

snack khas Pasar bengkel perbaungan

Posted by Unknown on Friday, 24 July 2015

Keripik Ubi/Singkong Rambat

Keripik ini sangat cocok untuk Oleh-oleh,

cemilan di rumah bersama keluarga.

Harga ekonomis Hanya 7000/bks

Opak Pedas Manis

Harga Ekonomis hanya 7000/bks



Cakar Ayam ini sangat renyah & gurih

cocok untuk oleh-oleh maupun makan bersama keluarga.

harganya juga ekonomis hanya 8000/bks .
More aboutsnack khas Pasar bengkel perbaungan

DODOL BENGKEL

Posted by Unknown

Sekitar tahun 1975-an, Buyung dan keluarga baru saja pindah ke Desa Pasar Bengkel, Perbaungan dari Kabupaten Langkat. Ketika itu Buyung tidak tau apa yang harus dikerjakannya untuk menghidup keluarganya. Ia tidak memiliki lahan untuk bertani atau kemampuan kerja kantoran. Ia pun memutar otak, sampai terfikir olehnya untuk berjaualan dodol. Bersama keluarganya, Buyung memulai usaha berjualan dodol. Kebetulan posisi Desa Pasar Bengkel berada di jalan lintas Sumatera yang selalu ramai. Ia memajang dodol-dodolnya di kedai sederhananya. Pelan-pelan ternyata usahanya ini meningkat. Ia pun merekrut warga sekitar untuk membuat dodol. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya ratusan usaha dodol di pasar Bengkel, Perbaungan. Saaat ini tercatat tidak kurang dari 150 IKM (Industri Kecil Menengah) dodol yang berada di Desa Pasar Bengkel. Kios-kios penjual dodol ini berjejer sepanjang 500-an meter disis jalan lintas Sumatera.



Dalam perkembangannya, produk dodol memiliki variasi rasa yang beragam seperti rasa vanili/biasa, rasa pandan, rasa nenas, rasa mangga, rasa durian, atau rasa kacang. Umumnya produk dodol ini dikemas dalam kemasan plastik biasa kemudian dikemas kembali dalam kemasan plastik yang lebih tebal dan diklem dengan hekter. Meski demikian, masih ada yang dikemas dengan menggunakan ”upe” (bagian permukaan dari kulit batang daun pinang yang agak tipis berwarna putih kekuningan), tetapi ada juga yang ditimbang sesuai keinginan pembeli dan dibungkus dengan plastik biasa. Biasanya produk dodol ini dapat bertahan selama 15 hari.

Bahan baku

Bahan baku pembuatan dodol antara lain, tepung pulut putih, santan kelapa, gula serta perasa alami. Pada umumnya tepung pulut yang digunakan merupakan campuran antara pulut siam dan pulut lokal dengan perbandingan 2:3. hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil dodol yang tidak terlalu lengket dan tidak terlalu keras. Sedangkan gula yang digunakan adalah gula merah, kecuali dodol rasa pandan yang menggunakan gula pasir. Usaha dodol secara keseluruhan masih dikelola secara perorangan dan proses produksinya masih bersifat tradisional, mulai dari penyiapan bahan baku sampai pengemasan. Hal ini menyebabkan kapasitas produksinya rendah, ongkos produksi tinggi dan produksinya kurang higienis. Sedangkan untuk dapat menembus pasar ekspor dan bisa bersaing dengan produk jenis makanan ringan lainnya dibutuhkan kualitas produk yang terjamin, ongkos produksi lebih rendah dan ketahanan produk yang lebih lama.

Bagi sejumlah penumpang kendaraan pribadi ataupun bus umum yang melintas di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai tak lengkap rasanya, jika belum singgah membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah ataupun sekadar mencicipi makanan khas (kuliner) di Desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Selain itu tak jarang juga pengendara sepeda motor yang menuju kota turis Parapat (Danau Toba) juga singgah di Pasar Bengkel ini.

Sejak puluhan tahun, Desa Bengkel yang lokasinya persis di jalan lintas Sumatera (jalinsum) memiliki ratusan kios yang menjual makanan khas (kuliner) dodol, keripik, opak yang berasal dari bahan  ketela.
Mengikuti selera pembeli, para pengusaha melakukan terobosan dalam hal pengolahan kuliner khususnya dodol.
“Jika dahulu kita hanya membuat dodol jenis yang biasa tanpa ada variasi rasa dan aroma, maka kini dodol telah memiliki aneka rasa. Itu tergantung bahan campurannya, ada dodol rasa durian, kacang, pandan dan vanili. Begitu juga dengan makanan yang berasal dari ketela, bentuk dan cara pembuatannya juga bertambah variasinya,” bilang Adi Santika pemilik Kios dodol Mentari kepada koran ini, beberapa waktu laku. Harga dodol relatif terjangkau, ada durian, pandan dan nenas. Rasanya cukup menggoda lidah karena bahan yang digunakan asli dan tanpa bahan pengawet.

Disebutkan  Adi lagi, sebenarnya sekarang yang dijual bukan hanya melulu dodol, tetapi termasuk semua jenis maakanan dan minuman ringan. ‘Icon’ Desai Bengkel sebagai tempatnya dodol sudah menjadi image masyarakat khususnya yang kerap melintasi wilayah Jalinsum, baik yang akan menuju ke arah Medan  maupun sebaliknya.

Sementara itu, sejumlah penumpang bus umum ataupun pribadi yang singgah di kios tempat khas kuliner di Sergai mengakui  variasi makanannya banyak dengan harga yang terjangkau, dalam arti tidak ‘mencekiki leher’ seperti di tempat atau lokasi khsusus yang ada di sejumlah daerah. “Harganya terjangkau, sedangkan fasilitas yang bagi pengendara juga disediakan pemilik kios makanan,” ujar Badrul Helmi warga Kota Tebing Tinggi mengaku singgah di Pasar Bengkel untuk membeli dodol rasa durian pesanan istrinya.
More aboutDODOL BENGKEL

PELETAKAN BATU PERTAMA IRIGASI

Posted by Unknown

Dalam rangka pengembangan jaringan irigasi yang dicanangkan oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia (kementan RI) untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai melalui Dinas Pertanian dan Peternakan melaksanakan peletakan batu pertama Pencanangan Gerakan Perbaikan Irigasi pada hari Khamis tanggal 29 Januari 2014 yang lalu di Dusun IV Desa Pematang Guntung Kecamatan Teluk Mengkudu


Gerakan perbaikan irigasi ini merupakan program penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian dalam rangka swasembada padi, jagung, kedele dan serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia dan diharapkan program ini bisa memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat terutama akan kebutuhan air.

Peletakan batu pertama langsung dilakukan oleh Bupati Sergai Ir. H Soekirman yang datang beserta rombongan dari jajaran Pemkab sergai dengan mengendarai sepeda motor. Dalam acara tersebut turut juga dihadiri Kadis Pertanian Provinsi Sumatera Utara Ir. H. M.Roem, M.Si, kepala Bakorlu Pertanian dan Perikanan Provsu Ir. Bonar Sirait M.Si, Kadis PSDA Provsu Ir. Dinsyah, Kepala Sekolah Tinggi Penyuluhan pertanian (STTP) Medan, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provsu, Kepala Badan Pertahanan Provsu, mewakili Dandim 0204 DS Kasdim Thamrin Hasibuan, Ketua TP PKK Sergai Ny. Hj. Marliah Soekirman, Kadis Pertanian dan Peternakan Ir. H. Safaruddin, Kadis Bina Marga Drs. Darwin Sitepu, Kadis PSDA Ir. Prihatina, Kabag Humas Dra. Indah Dwi Kumala, Camat Teluk Mengkudu Misran SE, Camat Serba Jadi Drs. Nasaruddin Nasution, Camat Bintang Bayu Drs. Sariful Azhar, Muspika Kecamatan, Bintara Pembina Desa (Babinsa), perhiptani, GP3A, P3A, Kelompok tani Sentang, P3A Sri Rezeki serta ratusan masyarakat dari berbagai kelompok tani lainnya.

Bupati Sergai Ir. H. Soekirman dalam paparannya mengemukakan bahwa di Kabupaten Sergai salah satunya di Desa Pematang Guntung ini masih banyak terdapat jaringan irigasi yang kurang berfungsi sehingga harus dinormalisasi kembali untuk menjadikan irigasi yang dapat mencakup pengairan diareal persawahan. Selain itu hendaknya beberapa aspek lainnya adalah dengan memperhatikan debit maupun kecepatan air yang mengalir serta luasnya lahan. Jadi jika semua tersebut dapat terpenuhi maka keberhasilan panen dipastikan lebih maksimal. Bupati berharap setelah peletakan batu pertama ini, pembangunan pertanian di Kabupaten serdang Bedagai dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi serta daya saing produk pertanian dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan(tw-yt).
More aboutPELETAKAN BATU PERTAMA IRIGASI

PEMELIHARAAN HUTAN BAKAU

Posted by Unknown

Pelestarian hutan bakau
Apa mungkin hutan bakau dilestarikan? Mungkin saja, kalau ada kemauan yang besar dari masyarakat penghuni pantai. Dulu, ketika hutan masih lebat karena tidak diusik semena-mena oleh pendatang serakah dari luar daerah, hutan itu dihuni oleh berbagai jenis fauna yang ramai. Berbagai burung air seperti pecuk, cangak, kuntul, cekakak, masih banyak yang meramaikan hutan. Bersama berbagai reptil (seperti ular, biawak, buaya), udang, kepiting, dan ikan, mereka memberi manfaat yang lestari sepanjang masa bagi umat manusia. Semua hasil fauna dan flora hutan itu dipungut sebagian demi sebagian oleh masyarakat penghuni pantai. Ada yang dijual ke masyarakat kita di kota, seperti udang, kepiting, dan arang bakau-bakau.

Hutan itu juga merupakan benteng pertama kita terhadap pengikisan pantai oleh air laut. Tidak segan-segan air ini merembes ke arah daratan, membuat sumur jadi payau. Akar pohon bakau-bakau mampu menangkal terpaan ombak ganas yang berkali-kali menghantam pantai. Daratan di belakangnya dilindungi.

Sayang seribu sayang, hutan yang bermanfaat semacam itu di Indonesia sudah banyak yang dirusak oleh pendatang dari daerah lain yang membabat hutan itu untuk membangun tambak udang komersial secara besar-besaran. Hutan bakau di dekat kota malah digusur untuk membangun tempat permukiman mewah.

Udang memang melimpah dari tambak komersial itu, tetapi hanya sebentar. Sesudah itu, produksi menurun, dan tambak udang ditelantarkan. Dibabat lagi hutan bakau yang baru, dan dibuat tambak lagi. Begitu seterusnya, pembabatan hutan seperti perladangan berpindah di Kalimantan terjadi di pantai hutan bakau. Bedanya, di hutan bakau ini tidak ada usaha penghutanan kembali.

Hutan itu sendiri sebenarnya sudah mencoba menghutan kembali secara alamiah. Tetapi apa daya, anak-anak bakau yang tumbuh tidak jauh dari pohon induknya (sisa-sisa yang masih bertahan), tidak dipelihara lebih lanjut. Anak-anak bakau ini buyar diterpa badai dan ombak laut karena tidak terlindungi oleh pohon induk yang besar di dekatnya. Induk bakau sudah langka.

Pada waktu keadaan sudah parah seperti itulah, terbetik berita ada usaha kompromi antara bisnis menguras sumber daya alam dan usaha pelestarian hutan bakau yang nirlaba. Antara lain berupa sylvofishery (semacam perikanan pakai hutan). Tambak dibangun berpetak-petak dengan parit keliling sebagaimana mestinya. Di bagian tengahnya yang lebih dangkal ditanami beberapa pohon bakau. Masyarakat diminta menjaga tanaman itu, jangan sampai dibabat semena-mena seperti dulu lagi. Biarlah hutan itu menghutan yang lebat dulu. Sebagai insentif, mereka boleh memungut hasil ikan dan udang yang benihnya sengaja ditebar dalam petakan tambak.

Selain pelestarian melalui sylvofishery itu, ditetapkan pula peraturan untuk melindungi hutan bakau yang masih ada. Misalnya di daerah konservasi yang ditetapkan bagi setiap hutan bakau selebar 200 m dari garis pantai. Ada ketetapan pula yang mengatur penebangan/pengambilan kayu dari pohon bakau yang sudah besar, agar tidak melampaui kemampuan tumbuh hutan bakau.

Daerah hutan bakau yang cocok untuk wisata alam, dijadikan lokasi wisata, antara lain untuk mengamati kehiduapn burung pantai dan keunikan flora hutan bakau.

Dengan berbagai cara pelestarian itu, diharapkan agar tidak akan terjadi banjir lagi seperti di daerah Bandar Udara Soekarno-Hatta baru-baru ini. Bencana alam semacam itu akan terjadi lagi, kalau hutan bakau kita terus dirusak dan tidak dilestarikan kembali. (Hanom Bashari, S.Hut., anggota Rimbawan Pencinta Alam, Bogor)
Pengertian Hutan Mangrove

Hutan Mangrove atau disebut juga hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Manfaat dan fungsi hutan mangrove secara fisik antara lain:

• Penahan abrasi pantai.
• Penahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan.
• Penahan badai dan angin yang bermuatan garam.
• Menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara (pencemaran udara).
• Penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai.
Manfaat dan fungsi hutan bakau secara biologi antara lain:
• Tempat hidup biota laut, baik untuk berlindung, mencari makan, pemijahan maupun pengasuhan.
• Sumber makanan bagi spesies-spesies yang ada di sekitarnya.
• Tempat hidup berbagai satwa lain semisal kera, buaya, dan burung.
Manfaat dan fungsi hutan bakau secara ekonomi antara lain:
• Tempat rekreasi dan pariwisata.
• Sumber bahan kayu untuk bangunan dan kayu bakar.
• Penghasil bahan pangan seperti ikan, udang, kepiting, dan lainnya.
• Bahan penghasil obat-obatan seperti daun Bruguiera sexangula yang dapat digunakan sebagai obat penghambat tumor.
• Sumber mata pencarian masyarakat sekitar seperti dengan menjadi nelayan penangkap ikan dan petani tambak.
Pemecahan Masalah Rusaknya Mangrove
            Untuk konservasi hutan mangrove dan sempadan pantai, Pemerintah R I telah menerbitkan Keppres No. 32 tahun 1990. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai, sedangkan kawasan hutan mangrove adalah kawasan  pesisir laut yang merupakan habitat hutan mangrove yang berfungsi memberikan perlindungan kepada kehidupan pantai dan lautan. Sempadan pantai berupa jalur hijau adalah selebar 100 m dari pasang tertinggi kea rah daratan.

            Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan hutan mangrove antara lain: 

1. Penanaman kembali mangrove sebaiknya melibatkan masyarakat. Modelnya dapat masyarakat terlibat dalam pembibitan, penanaman dan pemeliharaan serta pemanfaatan  hutan mangrove berbasis konservasi. Model ini memberikan keuntungan kepada masyarakat  antara lain terbukanya peluang kerja  sehingga terjadi peningkatan pendapatan masyarakat.

2. Pengaturan kembali tata ruang wilayah pesisir: pemukiman, vegetasi, dll. Wilayah pantai dapat diatur menjadi kota ekologi sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai wisata pantai (ekoturisme) berupa wisata alam atau bentuk lainnya.

3. Peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab.

4. Ijin usaha dan lainnya hendaknya memperhatikan aspek konservasi.

5. Peningkatan pengetahuan dan penerapan kearifan local tentang konservasi

6. Peningkatan pendapatan masyarakat pesisir

7. Program komunikasi konservasi hutan mangrove

8. Penegakan hukum

9. Perbaikkan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat. Artinya dalam memperbaiki ekosistem wilayah pesisir masyarakat sangat penting dilibatkan  yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain  itu juga mengandung pengertian bahwa konsep-konsep lokal  (kearifan lokal) tentang ekosistem dan pelestariannya perlu ditumbuh-kembangkan kembali sejauh dapat mendukung program ini. 

More aboutPEMELIHARAAN HUTAN BAKAU

PEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT

Posted by Unknown

Seiring kebutuhan rumput laut yang semakin meningkat, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri, sekaligus memperbesar devisa negara dari sektor non-migas, maka cara terbaik untuk tidak selalu menggantungkan persediaan dari alam adalah dengan melakukan budidaya rumput laut. Hingga saat ini, produksi rumput laut sangat besar didukung oleh budidaya. Berdasarkan data DKP, 99.73 persen produksi Indonesia adalah dari hasil budidaya. Hal tersebut dapat terjadi karena potensi alam Indonesia yang sangat mendukung dan hampir dapat dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

Secara umum, budidaya rumput laut Indonesia masih dilakukan dengan sederhana. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut, yang juga dapat menentukan keberhasilan budidaya itu sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. Pemilihan lokasi yang memenuhi persyaratan bagi jenis rumput laut yang akan dibudidayakan. Hal ini perlu dilakukan karena ada perlakukan yang berbeda untuk tiap jenis rumput laut
2. Pemilihan atau seleksi bibit yang baik, penyediaan bibit dan cara pembibitan yang tepat.
3. Metode budidaya yang tepat
4. Pemeliharaan tanaman
5. Metode panen dan perlakuan pasca panen yang benar
6. Pembinaan dan pendampingan secara kontinyu kepada petani.

Budidaya rumput laut dewasa ini semakin digalakkan, baik secara intensif maupun ekstensif dengan memanfaatkan lahan yang ada. Kini, budidaya rumput laut tidak hanya dilakukan di perairan pantai (laut) tetapi juga sudah mulai digalakkan pengembangannya di perairan payau (tambak).
Budidaya rumput laut di perairan pantai amat cocok diterapkan pada daerah yang memiliki lahan tanah sedikit (sempit) serta berpenduduk padat, sehingga diharapkan pembukaan lahan budidaya rumput laut diperairan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengatasi lapangan kerja yang semakin kecil. Menurut Indriani dan Suminarsih (1999), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk budidaya rumput laut di perairan pantai, yaitu :

1. Pemilihan Lokasi
Beberapa persyaratan yang diperhatikan terkait dengan lokasi yakni : perairan cukup tenang, terlindung dari pengaruh angin dan ombak; tersedianya sediaan rumput alami setempat (indikator); juga dengan kedalaman yang tidak boleh kurang dari dua kaki (sekitar 60 cm) pada saat surut terendah dan tidak boleh lebih dari tujuh kaki (sekitar 210 cm) pada saat pasang tertinggi. Selain itu juga harus didukung dasar perairan (tipe dan sifat substratum) yang digunakan. Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah kualitas air, akses tenaga kerja, perizinan, dan sebagainya.

2. Melakukan uji penanaman
Setelah menemukan lokasi yang secara umum sudah baik, perlu dilakukan uji penanaman untuk mengetahui apakah daerah tersebut memberikan pertumbuhan yang baik atau tidak. Pengujian dilakukan dengan metode tali dan metode jaring. Pada metode tali digunakan tali monofilamentatau polyethilene yang diikatkan pada dua tiang pancang yang dipasang dengan jarak sekitar 12 meter. Sedangkan pada metode jaring dapat menggunakan jaring monofilament atau polyethilenedengan ukuran 5 x 2.5 m yang diikatkan pada tiang pancang.

3. Menyiapkan areal budidaya
Setelah lokasi sudah dipastikan cukup baik, maka dilakukan persiapan lahan sebagai berikut:
a. Bersihkan dasar perairan lokasi budidaya dari rumput-rumput laut liar dan tanaman pengganggu lain yang biasa tumbuh subur.
b. Bersihkan calon lokasi dari karang, batu, bintang laut, bulu babi, maupun hewan predator lainnya.
c. Menyiapkan tempat penampungan benih (seed bin), bisa terbuat dari kerangka besi dan berjaring kawat atau dari rotan, bambu, ukurannya bervariasi 2 x 2 x 1.5 meter atau 2 x 2 x 1.5 – 1.7 meter.

4. Memilih metode budidaya yang akan digunakan
Membudidayakan rumput laut di lapangan (field culture) dapat dilakukan dengan tiga macam metode berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan, yakni metode dasar, metode lepas dasar, dan metode apung.
a. Metode dasar (bottom method)
Metode dasar adalah metode pembudidayaan rumput laut menggunakan benih bibit tertentu, yang telah diikat, kemudian ditebarkan ke dasar perairan, atau sebelum ditebarkan benih di ikat dengan batu karang. Metode ini juga terbagi atas dua yaitu : metode sebaran (broadcast) dan juga metode budidaya dasar laut (bottom farm method).
b. Metode lepas dasar (Off-bottom method)
Metode ini dilakukan dengan mengikatkan benih rumput laut (yang diikat dengan tali rafia) pada rentangan tali nilon atau jaring di atas dasar perairan dengan menggunakan pancang-pancang kayu. Metode ini terbagi atas : metode tunggal lepas dasar (Off-bottom monoline method), metode jaring lepas dasar (Off-bottom-net method), dan metode jaring lepas dasar berbentuk tabung (Off-bottom-tabular-net method).

c. Metode apung (floating method)
Metode ini merupakan rekayasa bentuk dari metode lepas dasar. Pada metode ini tidak lagi digunakan kayu pancang, tetapi diganti dengan pelampung. Metode ini terbagi menjadi : metode tali tunggal apung (Floating-monoline method), dan metode jaring apung (Floating net method).

5. Penyediaan bibit
Setelah dipilih metode budidaya yang akan dilakukan, langkah selanjutnya adalah penyediaan bibit. Bibit dikumpulkan dari pembibitan langsung, dilakukan dengan beberapa metode pengumpulan benih, yaitu :
a. Metode penyebaran secara spontan
Potongan-potongan (fragmen tetrasporotphyte) diletakkan pada jaring-jaring benih (seed nets) dan dapat pula diletakkan pada potongan-potongan batu di dalam tangki pengumpul yang telah diisi air laut. Setelah itu dibiarkan hingga tetraspora menyebar secara spontan.

b. Metode kering
Tetrasporotphyte dikeringkan dibawah sinar matahari selama tiga jam, kemudian ditempatkan dalam tangki seperti motode a di atas. Prosedur berikutnya sama dengan metode a.

c. Metode kejutan osmotic
Tetrasporotphyte direndam dalam air laut berkonsentrasi 1,030 g/cm3 selama 25 menit, kemudian direndam ke dalam air laut berkonsentrasi normal sambil diaduk dan akhirnya suspensi spora dapat diperoleh.

6. Penanaman bibit
Bibit yang akan ditanam adalah thallus yang masih muda dan berasal dari ujung thallus tersebut. Saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman benih adalah pada saat cuaca teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pagi hari atau sore hari menjelang malam.

7. Perawatan selama pemeliharaan
Seminggu setelah penanaman, bibit yang ditanam harus diperiksa dan dipelihara dengan baik melalui pengawasan yang teratur dan kontinyu. Bila kondisi perairan kurang baik, seperti ombak yang keras, angin serta suasana perairan yang banyak dipengaruhi kondisi musim (hujan/kemarau), perlu pengawasan 2-3 hari sekali.

8. Pemanenan
Pemanenan dapat dilakukan bila rumput laut telah mencapai berat tertentu, yakni sekitar empat kali berat awal (waktu pemeliharaan 1.5 – 4 bulan). Cepat tidaknya pemanenan tergantung metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam.

9. Pengeringan hasil panen
Penanganan pasca panen, termasuk pengeringan yang tepat sangat perlu, mengingat pengaruh langsungnya terhadap mutu dan harga penjualan di pasar.

Budidaya rumput laut di tambak merupakan salah satu cara pemanfaatan lahan untuk memenuhi permintaan rumput laut yang semakin meningkat, terutama untuk rumput laut jenis Gracillaria sp. Budidaya rumput laut di tambak memiliki lebih banyak keunggulan daripada budidaya di perairan pantai (laut). Keuntungan itu antara lain : tanaman rumput laut agak terlindungi dari pengaruh lingkungan yang kurang sesuai, serta juga memungkinkan untuk dilakukan pemupukan, termasuk kemudian mengontrol kualitas air, khususnya salinitas.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut di tambak yakni :
1. Pemilihan lokasi
Lokasi untuk budidaya rumput laut di tambak harus memenuhi beberapa persyaratan, dimana persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama dengan tambak untuk budidaya udang. Syarat-syarat tersebut seperti :
a. Gelombang dalam tambak (akibat pengaruh angin) tidak terlalu besar
b. Areal pertambakan sebaiknya melandai
c. Pasang surut yang baik berkisar antara 1.5-2.5 m.
d. Tersedia air tawar untuk mengatur salinitas
e. Kualitas air yang dibutuhkan dengan salinitas berkisar antara 12-30 permil, dengan
        kadar ideal 20-25 permil; suhu berkisar 18-30oC dengan suhu optimum 20-25oC; pH berkisar 6-9 dengan kisaran optimum 6.8-8.2; oksigen berkisar 3-8 ppm. Selain itu, air tidak mengandung atau membawa lumpu.
f. Dekat dengan rumah penduduk (untuk akses tenaga kerja)
g. Aksesibilitas jalan untuk transportasi, dan kebutuhan lainnya

2. Sistem distribusi air
Sistem distribusi yang baik sangat diperlukan untuk dapat mengatur kualitas air, khususnya melalui penggantian air yang teratur dan berulang-ulang.

3. Konstruksi tambak
Konstruksi tambak yang dibangun harus dapat menjawab kebutuhan untuk kegiatan budidaya yang dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan terkait konstruksi tambak adalah bentuk tambak, pematang, pintu air, dan juga saluran air.

4. Persiapan penanaman
Sebelum dilakukan penanaman, tanah dasar terlebih dahulu dinaikkan ke pematang. Setelah kering, tanah kemudian dimasukkan lagi. Untuk mempercepat pertumbuhan Gracillaria sp, tanah dapat dipupuk dengan menggunakan urea tiga kg per hektar, atau 1-2 ton pupuk kandang per hektar. Sedang untuk bibit yang digunakan dapat diperoleh dari maupun usaha budidaya.


5. Penanaman bibit
Penanaman bibit mengunakan broadcast method, dimana bibit tanaman ditebar di seluruh bagian tambak. Bibit yang ditebar adalah bagian thallus yang masih muda, yang diperoleh dengan jalan membuang bagian-bagian pangkalnya. Sedang untuk bagian ujungnya dapat ditebar ke dalam tambak, karena bibit yang berasal dari bagian ujung lebih baik daripada bagian pangkalnya.

6. Perawatan selama pemeliharaan
Perawatan pada budidaya rumput laut di tambak hampir sama dengan budidaya di laut. Perlu juga diperhatikan kondisi air, dan hama dan gulma yang menyerang seperti lumut dari jenisEnteromorpha in Limnea glabra Muller yang biasanya menyerang dengan membelit rumput laut, sehingga memperlambat pertumbuhan rumput laut.

7. Pemanenan
Rumput laut biasanya dapat dipanen bila usia pemeliharaan sudah mencapai 45-60 hari (sekitar 2 bulan) dengan berat biasanya berkisar antara 500-600 gram. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemanenan juga dapat dilakukan setiap tujuh hari sekali. Untuk penanganan pasca panen hampir sama dengan yang telah dijelaskan pada budidaya rumput laut di perairan pantai atau laut

More aboutPEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT